3
Aku, johan, dan robert terus
melakaukan perjalanan markasnyapun sudah semakin dekat, tiba-tiba ada yang
melempas batu kearahku
“hey, siapa itu?” teriakku
tidak ada jawaban sama sekali yang terdengar
“kalau kau berani tunjukan dirimu” teriak johan
tidak ada jawaban lagi yang terdengar
“dasar pencundang!!” teriak robert
lalu mereka memperlihatkan dirinya
“hey, disini!kami dibelakang kalian” teriak orang yang melempar batu
“siapa kalian?” tanyaku
“jangan banyak tanya seharusnya kami yang bertanya siapa kalian?”
“kami adalah musuh dari edvan regar pecundang itu”
“apa kalian bilang?!!” teriak kelompok itu dan langsung menyerangku, johan dan robert.
tidak ada jawaban sama sekali yang terdengar
“kalau kau berani tunjukan dirimu” teriak johan
tidak ada jawaban lagi yang terdengar
“dasar pencundang!!” teriak robert
lalu mereka memperlihatkan dirinya
“hey, disini!kami dibelakang kalian” teriak orang yang melempar batu
“siapa kalian?” tanyaku
“jangan banyak tanya seharusnya kami yang bertanya siapa kalian?”
“kami adalah musuh dari edvan regar pecundang itu”
“apa kalian bilang?!!” teriak kelompok itu dan langsung menyerangku, johan dan robert.
Akupun melawannya dengan penuh
kekesalan, johan mengeluarkan senjatanya, robert juga melawan dengan penuh
amarahnya, tiba –tiba datang lagi sekelompok edvan regar. Ketika aku johan dan
robert berkelahai dengan secara benar dan adil tiba-tiba salah satu pasukan
edvan regar menyerangku dari belakang , darah sudah banyak berceceran ditanah
“Edwan!!!” teriak johan berlalri mendekatiku tetapi pasukan edvan regar menarik dan mendorong johan kepohon hingga johan terjatuh, rebert pun berlari mendekati johan tetapi robert dihadang oleh pasukan edvan regar
“curang kalian, pengecut!!” teriakku dengan penuh amarah. Akupun ditarik paksa menjauhi robert dan johan “robert!!johan!!” teriaku berulang ulang kali, pasukan edvan regar terus menariku, aku melihat seorang pria sedang di siksa dan ingin dibunuh dan dimasukan ingin dimasukan kedalam jurang setelah aku lihat dengan teliti lagi ternyata dia adalah ayahku
“ayahh!!” teriakku
“edwann” balas teriak ayahku
akupun langsung menggigit tangan pasukan advan regar lalu melawannya dan berlari menuju ayahkuyang sedang dikepung itu
“lepaskan ayahku!” ucapku kesal penuh keringat darah diwajahku, mereka hanya membalasnya dengan tertawa meremehkan.
“dasar tidak punya otak!!, lepaskan ayahku!” teriakku
“hey pemuda, apakah kau tidak melihat sekelilingmu, kau hanya sendiri sedangkan kita? Lebih dari cukup”
suara orang berlari terdengar dari sebelah barat, aku rasa itu adalah pasukan edvan regar, ternyata aku salah menduga, mereka adalah temanku johan dan robert
“tenang wan, ada kita” ucap johan
johan dan robert membantuku melawan pasukan edvan regar, tak lama kemudian ketika pasukan edvan regar tinggal tersisa tiga orang, edvan regarpun datang dengan menaiki mobil besarnya
“hey pemuda, mau apa kalian datang ke daerah kekuasaanku?” tanya sombong edvan regar
“apa?! Daerah kekuasaanmu? Tidak, tidak ada tempat yang bisa menjadi tempat kekuasaanmu, semuanya tempat umum!, ingat itu!” jawabku
“kami disini ingin menghancurkan niat jahatmu dan membunuhmu” sambung robert
“tidak akan lama lagi nyawamu akan hilang” sambung robert
“Edwan!!!” teriak johan berlalri mendekatiku tetapi pasukan edvan regar menarik dan mendorong johan kepohon hingga johan terjatuh, rebert pun berlari mendekati johan tetapi robert dihadang oleh pasukan edvan regar
“curang kalian, pengecut!!” teriakku dengan penuh amarah. Akupun ditarik paksa menjauhi robert dan johan “robert!!johan!!” teriaku berulang ulang kali, pasukan edvan regar terus menariku, aku melihat seorang pria sedang di siksa dan ingin dibunuh dan dimasukan ingin dimasukan kedalam jurang setelah aku lihat dengan teliti lagi ternyata dia adalah ayahku
“ayahh!!” teriakku
“edwann” balas teriak ayahku
akupun langsung menggigit tangan pasukan advan regar lalu melawannya dan berlari menuju ayahkuyang sedang dikepung itu
“lepaskan ayahku!” ucapku kesal penuh keringat darah diwajahku, mereka hanya membalasnya dengan tertawa meremehkan.
“dasar tidak punya otak!!, lepaskan ayahku!” teriakku
“hey pemuda, apakah kau tidak melihat sekelilingmu, kau hanya sendiri sedangkan kita? Lebih dari cukup”
suara orang berlari terdengar dari sebelah barat, aku rasa itu adalah pasukan edvan regar, ternyata aku salah menduga, mereka adalah temanku johan dan robert
“tenang wan, ada kita” ucap johan
johan dan robert membantuku melawan pasukan edvan regar, tak lama kemudian ketika pasukan edvan regar tinggal tersisa tiga orang, edvan regarpun datang dengan menaiki mobil besarnya
“hey pemuda, mau apa kalian datang ke daerah kekuasaanku?” tanya sombong edvan regar
“apa?! Daerah kekuasaanmu? Tidak, tidak ada tempat yang bisa menjadi tempat kekuasaanmu, semuanya tempat umum!, ingat itu!” jawabku
“kami disini ingin menghancurkan niat jahatmu dan membunuhmu” sambung robert
“tidak akan lama lagi nyawamu akan hilang” sambung robert
Edvan regar langsung menyerangku,
pertarungan sengit semakin membara darahpun terus mengalir bercucuran dari
tubuhku, dengan rasa kesakitan aku mendorong edvan regar kearah pohon , johan
pun langsung memegangi tangannya sedangkan robert masih melawan pasukannya yang
tinggal tersisa satu itu. Aku langsung mengambil tali dari dalam tas johan dan
mengikatnya dipohon.
Aku menghampiri ayahku yang sedang
kesakitan itu
“ayah..” ucapku, johan dan robert mendekati aku dan ayahku, ayahku hanya tersenyum sambil menahan luka ditubuhnya
“ayo bangun ayah, kita pulang” ajakku, ayahku hanya terdiam lemas.
“ayah ayo bangun ibu sudah menanti kita” ajakku lagi
akhirnya ayah ku dengan sekuat tenaga mencoba berdiri dan tiba-tiba terjatuh kembali
“kenapa yah?”
“ayah sudah tidak kuat yah, ayah ingin kamu menjadi penyelamat apapun seperti ayah, walau nyawa kamu itu harus menjadi taruhannya, jaga ibu kamu baik-baik, hanya kamu penerus ayah wan”ucap ayahku terpotong potong, dan ayahku menghembuskan nafas terakhirnya.
“ayah..” ucapku, johan dan robert mendekati aku dan ayahku, ayahku hanya tersenyum sambil menahan luka ditubuhnya
“ayo bangun ayah, kita pulang” ajakku, ayahku hanya terdiam lemas.
“ayah ayo bangun ibu sudah menanti kita” ajakku lagi
akhirnya ayah ku dengan sekuat tenaga mencoba berdiri dan tiba-tiba terjatuh kembali
“kenapa yah?”
“ayah sudah tidak kuat yah, ayah ingin kamu menjadi penyelamat apapun seperti ayah, walau nyawa kamu itu harus menjadi taruhannya, jaga ibu kamu baik-baik, hanya kamu penerus ayah wan”ucap ayahku terpotong potong, dan ayahku menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku mengambil
pistol dari kantong ku dengan penuh amarah aku menembakan pistol itu ke arah
edvan regar
“dasar kau pengecut!!” sambil menembakan peluru itu, johan langsung menghampiriku “edwan..”
“biarkan saja dia mati”
aku menghampiri ayahku, rasa duka yang sangat dalam saat aku melihat kematian ayahku, lalu polisi pun datang untuk membawa jasad edvan regar, kapten polisi menghampiriku
“sabar nak, ini sudah takdir untuk ayahmu pergi, mari kita bawa ayahmu” ajak polisi itu
“dasar kau pengecut!!” sambil menembakan peluru itu, johan langsung menghampiriku “edwan..”
“biarkan saja dia mati”
aku menghampiri ayahku, rasa duka yang sangat dalam saat aku melihat kematian ayahku, lalu polisi pun datang untuk membawa jasad edvan regar, kapten polisi menghampiriku
“sabar nak, ini sudah takdir untuk ayahmu pergi, mari kita bawa ayahmu” ajak polisi itu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar