Kamis, 30 Juni 2016

The Adventurous Gold Chapter1

1


Dimalam hari hujan turun sangat lebat, suara petir yang sangat keras, angin yang kencang, dan suasana yang gelap aku duduk sendirian diruang keluarga tiba-tiba dering telepon ayahku berbunyi, akupun segera menghampiri telepon itu. Ketika aku ingin mengangkatnya tiba-tiba ayahku datang dan langsung mengambil telpon genggam nya dari tanganku, ayahku pergi menjauh untuk mengangkat telpon itu, dengan wajah yang serius ayahku berbicara serius dengan orang yang menelponnya. Setelah selesai menelpon, ayahku langsung berlari kekamar dan memasukan baju-bajunya kedalam tasnya dan berpamitan kepadaku dan ibuku, sebelum berangkat ayah sempat menitip pesan kepadaku “nak, ayah pergi ada tugas yang sangat penting, jaga ibumu baik-baik ayah pergi ya.” Lalu ayahku menyalakan gas mobilnya dan pergi dalam suasana hujan yang sangat sangat lebat, tidak tahu mengapa aku sangat penasaran atas apa yang ingin dilakukannya. Namun, persaanku tidak enak aku melihat selembar kertas diatas meja khusus ayahku yang tertuliskan alamat, aku simpan kertas itu di buku ku.Sudah dua hari lamanya ayahku pergi dan tidak mengasih kabar berita tentang keadaannya perasaan khawatir datang kepada ibuku, ditengah malam ibuku menghampiriku “Edwan, apakah kamu tahu dimana keberadaan ayahmu?” tanyanya dengan penuh rasa kekhawatiran . “tidak bu, ayah sama sekali tidak memberitahu ku tentang dimana keberadaannya saat ini, sudah bu ini sudah malam sebaiknya ibu istirahat siapa tahu ayah besok datang.” Jawabku berusaha untuk menenangkan hati ibu.

tak lama kemudian aku teringat dengan kertas yang aku temukan di atas meja ayah, aku langsung memasukan baju-bajuku kedalam tas untuk mencari ayah.Keesokan harinya tepatnya jam 03.00 aku langsung berpamitan kepada ibu untuk mencari ayah, dengan kepercayaan ibu dan tekad ku yang kuat akupun di izinkan oleh ibu untuk mencari ayah, tak mengulur waktu banyak aku langsung mencari kendaraan. Kulihat sekeliling jalan tidak ada satupun kendaraan yang lewat itu membuatku harus berjalan kaki.Satu jam berlalu aku mendengar suara mobil di telingaku, aku pun memberhentikan mobil itu. “pak boleh saya ikut?” “boleh, memang kamu ingin kemana?” “ini alamatnya pak” aku menunjukan kertas alamat itu. “oh silakan, tapi didalam sini sudah tidak muat” “yasudah pak, tidak apa-apa aku duduk di bak mobilnya saja” “yasudah ayo naik.” waktu sudah semakin sore tak terasa akhirnya mobil itu sampai didaerah yang aku cari. “terimakasih pak atas tumpangannya, maaf pak sudah merepotkan” “sudah tidak apa-apa, yasudah saya ingin melanjutkan perjalanan” balas supir itu dan menjalankan gas mobilnya kembali.

Aku mulai melangkahkan kaki ku di desa Vilar yang terpencil, gelap, sunyi, menyeramkan, banyak hutan dan jurang disekitarnya, aku semakin khawatir dengan ayahku, tidak ada sinyal di telepon genggamku, penduduk desa Vilar pun jarang terlihat, hanya satu atau dua saja yang ku lihat, aku terus berjalan melanjutkan perjalanan,ketika kau sedang berjalan aku melihat seorang kakek tua yang berjalan dengan tongkatnya itu, dengan rasa berani akupun menghampirinya untuk menanyakan keberadaan ayahku. “kakek, maaf apakah disini pernah kedatangan seorang tamu yang baru dua hari yang lalu, umurnya 39 tahun dan memakai baju petugas?.” kakek tua itu hanya menjawab dengan singkatnya “ikuti saya!” tak berfikir lama aku mengikuti kakek itu, kakek itu mengajakku kesebuah rumah tua didekat hutan dimana rumah itu tempat tinggal kakek itu dan cucuknya. “duduklah” ajaknya, aku pun menurutinya. “apa tujuanmu untuk datang ke desa ini?” “aku hanya ingin mencari ayahku kek, aku khawatir dua hari yang lalu ayahku pergi dari rumah untuk pergi kedesa ini ayahku bilang dia mendapat tugas penting di desa ini , aku aku lebih khawatikan lagi ayahku pergi dari rumah pada malam hari dan itu dengan suasana hujan yang sangat deras.” “siapa nama ayahmu? “ayahku bernama Adam Herjakson” kakek itu hanya terdiam dengan wajah yang penuh kekhawatiran “kenapa kek?” “iya benar, ayahmu ditugaskan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi didesa ini, ayah mu pergi kehutan untuk mencari dimana titik pusat permasalahannya tetapi sudah dua hari ayahmu belum kembali” “memang desa ini memiliki masalah apa? Aku melihat sekeliling desa ini jarang sekali penduduk desayang terlihat” “memang desa ini adalah desa yang menakutkan dan tidak tenang banyak pembunuhan, pemberontakan, dan pencurian” “lalu bagaimana dengan nasib ayahku kek? Aku ingin bersama ayahku, aku tidak ingin ayah melawan sendirian masalah sebanyak itu dan sangat berbahaya” “jika kamu ingin mencari ayahmu, sebaiknya besok saja saya akan meminta cucuk saya agar ikut bersamamu, Johan!!” panggil kakek itu
cucuknya langsung menghampirinya dengan tubuh yang berisi, gagah, tinggi, kakek itu memperkenalkannya kepadaku. “perkenalkan ini cucuk saya, ayahnya sudah meninggal, karena ketika ayahnya sedang memcari permasalahan desa ini ayahnya terbunuh, johan akan ikut bersamamu untuk mencari ayahmu”

Hari sudah malam, angin dingin, suara derasnya angin sungai, dan bunyi sunyi dari hutan menemaniku dan johan berbinca didepan rumah tua itu. “Han apakah kamu yakin besok akan ikut bersamaku untuk mencari ayahku?” “yakin, karena aku juga ingin membalas orang yang sudah membunuh ayahku.” “bagaimana desa ini bisa menjadi desa yang sunyi dan menyeramkan seperti saat ini?” “awalnya desa ini adalah desa yang nyaman dan tentram, akan tetapi ada sekelompok pemberontak yang dipimpin oleh Edvan Regar yang ingin menjadikan desa ini tempat kekuasaannya. Ia dan para pasukannya selalu membunuh dan mencuri sesuatu dari desa ini dan markas mereka ada di hutan Marly hutan yang berda di ujung desa ini” “dasar orang yang tidak punya fikiran! Akan aku bunuh orang itu” amarahku keluar “ayo kita persiapkan untuk perjalanan kita esok”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar