The Adventurous Gold Chapter1
1

Dimalam hari hujan turun sangat lebat,
suara petir yang sangat keras, angin yang kencang, dan suasana yang gelap aku
duduk sendirian diruang keluarga tiba-tiba dering telepon ayahku berbunyi,
akupun segera menghampiri telepon itu. Ketika aku ingin mengangkatnya tiba-tiba
ayahku datang dan langsung mengambil telpon genggam nya dari tanganku, ayahku
pergi menjauh untuk mengangkat telpon itu, dengan wajah yang serius ayahku
berbicara serius dengan orang yang menelponnya. Setelah selesai menelpon,
ayahku langsung berlari kekamar dan memasukan baju-bajunya kedalam tasnya dan
berpamitan kepadaku dan ibuku, sebelum berangkat ayah sempat menitip pesan
kepadaku “nak, ayah pergi ada tugas yang sangat penting, jaga ibumu baik-baik
ayah pergi ya.” Lalu ayahku menyalakan gas mobilnya dan pergi dalam suasana
hujan yang sangat sangat lebat, tidak tahu mengapa aku sangat penasaran atas
apa yang ingin dilakukannya. Namun, persaanku tidak enak aku melihat selembar
kertas diatas meja khusus ayahku yang tertuliskan alamat, aku simpan kertas itu
di buku ku.Sudah dua hari lamanya ayahku pergi
dan tidak mengasih kabar berita tentang keadaannya perasaan khawatir datang
kepada ibuku, ditengah malam ibuku menghampiriku “Edwan, apakah kamu tahu
dimana keberadaan ayahmu?” tanyanya dengan penuh rasa kekhawatiran .
“tidak bu, ayah sama sekali tidak memberitahu ku tentang dimana keberadaannya
saat ini, sudah bu ini sudah malam sebaiknya ibu istirahat siapa tahu ayah
besok datang.” Jawabku berusaha untuk menenangkan hati ibu.
tak lama kemudian aku teringat dengan kertas yang aku temukan di atas meja
ayah, aku langsung memasukan baju-bajuku kedalam tas untuk mencari ayah.Keesokan harinya tepatnya jam 03.00
aku langsung berpamitan kepada ibu untuk mencari ayah, dengan kepercayaan ibu
dan tekad ku yang kuat akupun di izinkan oleh ibu untuk mencari ayah, tak
mengulur waktu banyak aku langsung mencari kendaraan. Kulihat sekeliling jalan
tidak ada satupun kendaraan yang lewat itu membuatku harus berjalan kaki.Satu jam berlalu aku mendengar suara
mobil di telingaku, aku pun memberhentikan mobil itu.
“pak boleh saya ikut?”
“boleh, memang kamu ingin kemana?”
“ini alamatnya pak” aku menunjukan kertas alamat itu.
“oh silakan, tapi didalam sini sudah tidak muat”
“yasudah pak, tidak apa-apa aku duduk di bak mobilnya saja”
“yasudah ayo naik.”
waktu sudah semakin sore tak terasa akhirnya mobil itu sampai didaerah yang aku
cari.
“terimakasih pak atas tumpangannya, maaf pak sudah merepotkan”
“sudah tidak apa-apa, yasudah saya ingin melanjutkan perjalanan” balas supir
itu dan menjalankan gas mobilnya kembali.
Aku mulai melangkahkan kaki ku di desa
Vilar yang terpencil, gelap, sunyi, menyeramkan, banyak hutan dan jurang
disekitarnya, aku semakin khawatir dengan ayahku, tidak ada sinyal di telepon
genggamku, penduduk desa Vilar pun jarang terlihat, hanya satu atau dua saja
yang ku lihat, aku terus berjalan melanjutkan perjalanan,ketika kau sedang
berjalan aku melihat seorang kakek tua yang berjalan dengan tongkatnya itu,
dengan rasa berani akupun menghampirinya untuk menanyakan keberadaan ayahku.
“kakek, maaf apakah disini pernah kedatangan seorang tamu yang baru dua hari
yang lalu, umurnya 39 tahun dan memakai baju petugas?.”
kakek tua itu hanya menjawab dengan singkatnya “ikuti saya!”
tak berfikir lama aku mengikuti kakek itu, kakek itu mengajakku kesebuah rumah
tua didekat hutan dimana rumah itu tempat tinggal kakek itu dan cucuknya.
“duduklah” ajaknya, aku pun menurutinya.
“apa tujuanmu untuk datang ke desa ini?”
“aku hanya ingin mencari ayahku kek, aku khawatir dua hari yang lalu ayahku
pergi dari rumah untuk pergi kedesa ini ayahku bilang dia mendapat tugas
penting di desa ini , aku aku lebih khawatikan lagi ayahku pergi dari rumah
pada malam hari dan itu dengan suasana hujan yang sangat deras.”
“siapa nama ayahmu?
“ayahku bernama Adam Herjakson”
kakek itu hanya terdiam dengan wajah yang penuh kekhawatiran
“kenapa kek?”
“iya benar, ayahmu ditugaskan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi didesa
ini, ayah mu pergi kehutan untuk mencari dimana titik pusat permasalahannya
tetapi sudah dua hari ayahmu belum kembali”
“memang desa ini memiliki masalah apa? Aku melihat sekeliling desa ini jarang
sekali penduduk desayang terlihat”
“memang desa ini adalah desa yang menakutkan dan tidak tenang banyak
pembunuhan, pemberontakan, dan pencurian”
“lalu bagaimana dengan nasib ayahku kek? Aku ingin bersama ayahku, aku tidak
ingin ayah melawan sendirian masalah sebanyak itu dan sangat berbahaya”
“jika kamu ingin mencari ayahmu, sebaiknya besok saja saya akan meminta cucuk
saya agar ikut bersamamu, Johan!!” panggil kakek itu
cucuknya langsung menghampirinya dengan tubuh yang berisi, gagah, tinggi, kakek
itu memperkenalkannya kepadaku.
“perkenalkan ini cucuk saya, ayahnya sudah meninggal, karena ketika ayahnya
sedang memcari permasalahan desa ini ayahnya terbunuh, johan akan ikut
bersamamu untuk mencari ayahmu”
Hari sudah malam, angin dingin, suara
derasnya angin sungai, dan bunyi sunyi dari hutan menemaniku dan johan berbinca
didepan rumah tua itu.
“Han apakah kamu yakin besok akan ikut bersamaku untuk mencari ayahku?”
“yakin, karena aku juga ingin membalas orang yang sudah membunuh ayahku.”
“bagaimana desa ini bisa menjadi desa yang sunyi dan menyeramkan seperti saat
ini?”
“awalnya desa ini adalah desa yang nyaman dan tentram, akan tetapi ada
sekelompok pemberontak yang dipimpin oleh Edvan Regar yang ingin menjadikan
desa ini tempat kekuasaannya. Ia dan para pasukannya selalu membunuh dan
mencuri sesuatu dari desa ini dan markas mereka ada di hutan Marly hutan yang
berda di ujung desa ini”
“dasar orang yang tidak punya fikiran! Akan aku bunuh orang itu” amarahku
keluar
“ayo kita persiapkan untuk perjalanan kita esok”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar